Buka Layar

Ketika Queer Menyambut dan Memaknai Ramadan

Bulan Ramadan tinggal menghitung hari. Bulan yang disambut dengan suka cita bagi sebagian besar muslim. Saya katakan sebagian besar muslim, karena saya rasa tidak semua muslim merasakan demikian. Terutama bagi kawan-kawan queer muslim. Bulan Ramadan bisa jadi bulan yang dinantikan, tapi bisa juga menjadi bulan yang membuat deg-deg an dengan segala tantangannya.

Saya pun melakukan wawancara singkat dengan beberapa kawan queer muslim untuk mencatat bagaimana pengalaman mereka dalam menghadapi dan memaknai bulan Ramadan. Tentu saja pengalaman mereka tidak bisa mewakili sepenuhnya pengalaman kawan-kawan queer muslim, tapi bisa saja pengalaman mereka akan menjadi pembelajaran bagi kita semua. Apalagi bagaimanapun pengalaman kita dalam menghadapi maupun memaknai Ramadan adalah valid.

Napol, seorang queer muslim dari Cirebon mengisahkan selama menjalani Ramadan dari tahun ke tahun relatif lebih baik. Ia membandingkannya dengan pada saat awal-awal ia melela ke keluarganya. Saat itu penerimaan keluarganya masih belum terlihat. “Keluarga mengucilkan, tetapi gak sampai ngusir. Memang secara karakter, keluargaku bukan tipe yang suka marah-marah lebih kayak ngejauhin gitu. Membuat aku ngerasa ada di tengah-tengah mereka, tetapi seolah-olah gak ada di situ, jadi kayak diabaikan gitu.”kenangnya.

Selama bulan Ramadan, awal-awal ia lebih banyak merasa takut dan mengucilkan diri sendiri. Keluarga yang masih mengucilkannya saat itu membuatnya seringkali agak takut terlihat orang lain, tetapi lambat laun seiring keluarganya melihat keteguhan, keselarasan ucapan maupun ekspresi setiap harinya, mereka pun menerimanya. Apalagi kegiatan yang dilakukannya hal-hal yang bermanfaat dan tidak merugikan orang lain. Napol tergabung dalam sebuah komunitas anak muda yang bergerak dalam isu-isu seksualitas dan kekerasan seksual.

Ketika Napol menjalankan ibadah salat di masjid, ia selalu berada di saf laki-laki dan ia tidak pernah mengalami diskriminasi. Mungkin karena ia selalu memilih masjid yang agak jauh dari rumahnya dan tidak banyak tetangganya yang salat di masjid tersebut. Saat masih diabaikan keluarganya, ia juga tidak mempedulikannya. “Terserah keluargaku gimana, yang penting aku salat, aku ibadah gitu. Memang lama-lama akhirnya terbiasa. Mereka malah ngajakin bareng waktu akan salat jumat. Perubahan terlihat lah lama-lama.”lanjutnya.

Sementara itu Fikri yang juga seorang queer muslim menyoroti bahwa Ramadan umumnya merupakan momentum bertemu dan berkumpul bersama keluarga, teman dekat, bahkan tetangga. Di satu sisi mungkin akan menyenangkan karena bertemu dengan orang-orang yang disayangi, tetapi di sisi lain karena seorang queer bisa menjadi hal yang memicu (triggering). Bahkan bisa membuat cemas maupun banyak pikiran (overthinking). Menurutnya ketika sedang berkumpul sering muncul pertanyaan berkaitan pribadi seseorang. “Dan ini kayak menjadi budaya. Misalnya pertanyaan apakah sudah menikah, pencapaian apa yang sudah dilakukan. Belum lagi apabila pemahaman agama yang tidak ramah dengan kawan-kawan queer. Biasanya muncul saat kutbah atau kultum yang berisi pesan-pesan yang tidak ramah pada minoritas gender dan seksualitas. Itu bisa menimbulkan kekhawatiran.”jelasnya.

Senada dengan Napol yang memilih masjid di mana tidak banyak tetangganya yang salat di sana, begitu pun dengan Fikri yang juga selektif dalam memilih masjid. Ia memilih masjid yang jauh dari rumah. Hal ini dilakukan untuk menjaga keamanannya dalam beribadah. “Aku memilih mengalah, salat di masjid yang agak jauh atau salat di rumah bersama keluargaku. Atau yang menyenangkan ketika bisa beribadah dengan kawan-kawan komunitas. Kita bisa membangun ruang aman sendiri.”katanya.

Berbeda lagi dengan pengalaman Mbak YS dan kawan-kawan santri Pondok Pesantren Waria Al-Fatah Yogyakarta yang menyambut bulan Ramadan dengan melakukan ziarah kubur kawan-kawan transpuan yang sudah meninggal. Menurutnya tidak semua kawan-kawan yang sudah meninggal itu berasal dari Jogja, karena jauh sehingga keluarga mereka pun tidak bisa mendoakan mereka. “Selain itu ziarah ke makam mereka, juga menjadi pembelajaran bagi kawan-kawan yang masih ada bahwa setiap orang akan mengalami kematian. Ziarah ke makam juga menjadi refleksi bagi kami.”jelasnya.

Terkait kegiatan yang dilakukan di ponpes saat Ramadan, Mbak YS mengatakan tidak banyak perubahan. Kegiatan mengaji maupun mendengarkan kajian dari pengajar sudah rutin dilakukan. Hanya saja saat Ramadan, kegiatan jadi bertambah yaitu buka bersama dan salat tarawih berjamaah. “Belajar mengaji pun saat bulan Ramadan jauh lebih intens dilakukan. Biasanya ada dua kelas yang dilakukan yaitu kelas iqro’ dan kelas Al-Qur’an.”katanya.

Selain berbeda pengalaman saat menyambut maupun menjalani Ramadan, berbeda pula cara setiap individu dalam memaknai Ramadan. Napol, merasa tidak ada perubahan signifikan saat sebelum melela maupun setelah dirinya melela dalam memaknai Ramadan. Namun, setelah ia melela ia merasa jauh lebih total dalam menjalankan ibadah. Ia merasa lebih menikmati dan menghayati bulan Ramadan.

Fikri memaknai Ramadan sebagai momentum untuk menerima diri seutuhnya. Ramadan ia artikan tidak hanya momentum untuk puasa dan tarawih, tetapi lebih dari itu. Ramadan ia jadikan sebagai momentum untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, untuk mengenal dan menerima diri serta tidak menyakiti diri karena anggapan orang lain. “Ramadan juga sebagai waktu untuk berjeda dan memaknai pembelajaran untuk pertumbuhan jiwaku. Karena kita tidak bisa mengharapkan orang lain sepenuhnya untuk menerima diri kita meskipun kita sudah menerima diri kita.”tambahnya.

Mbak YS sendiri memaknai Ramadan sebagai bulan istimewa. Selama bulan Ramadan membuatnya lebih dekat dengan Sang Pencipta, bisa membuatnya lebih bisa mengontrol emosi kemudian ia juga lebih rajin untuk menjalankan sholat lima waktu. Saat ditanya apakah puasa akan memengaruhi pekerjaan, menurutnya hal itu tergantung niatnya, tetapi ia tidak memukul rata setiap orang akan sama seperti dirinya. Puasa merupakan pengalaman spiritual masing-masing orang. Santri lain mungkin memiliki pengalaman berbeda. “Kalau puasa itu rasanya luar biasa. Setelah seharian puasa lalu buka puasa dengan minum air hangat lalu merokok rasanya nikmat sekali. Bulan Ramadan merupakan hal personal bagi masing-masing individu karena hal itu adalah hubungan antara individu dengan Sang Pencipta.”katanya.

Adalah sebuah hak istimewa (privilege) ketika queer muslim bisa menjalani Ramadan dengan tenang dan bersama orang-orang terdekat maupun keluarga yang menerima. Namun, bagaimana dengan kawan-kawan queer muslim yang tidak memiliki privilege tersebut? Napol berbagi tips apabila ada kawan-kawan queer muslim yang jauh dari keluarga agar bisa mencari aktivitas atau hobi yang ada komunitasnya. Bisa juga kegiatan sosial. “Hal ini akan membuat tidak merasa kesepian. Apalagi jika komunitas tersebut menerima identitas kita sebagai queer.”katanya.

Bagaimana jika belum bisa berkomunitas? Menurut Fikri, berdasarkan pengalamannya, saat bulan Ramadan bisa dengan mencari tempat ibadah yang aman. “Itu dulu dipastikan. Karena kalau dalam sepengetahuanku keamanan jauh lebih penting daripada beribadah. Karena dalam Islam sepengetahuanku di saat-saat tertentu misalnya kondisi perang dan lain-lain ada beberapa pengecualian dalam salat. Ibadah tidak hanya salat, cuman orang banyak mengartikan ibadah itu salat, kalau dalam pengertian ibadah itu salat, yang lebih penting itu keamanannya. Yang paling penting itu keamanan sebagai manusia.”tegasnya.

Ia juga menambahkan kalau ke masjid, sebaiknya mencari masjid yang aman atau tidak. Kalau berpotensi membuat kegaduahn dan itu merugikan diri sendiri maka kalau bisa dihindari saja dan menjalankan salat di rumah.  Cara untuk melindungi diri agar tidak tersakiti juga termasuk ibadah. “Karena itu tugas manusia. Jadi, ibadah itu banyak, termasuk senyum, berbuat baik ke orang lain.”katanya.

Selain keamanan, agar puasa lebih maksimal dan tidak memengaruhi pekerjaan menurut Mbak YS bisa melakukan seperti yang ia lakukan yaitu mengakalinya dengan mengubah jam tidur. Ia biasanya tidur setelah melakukan sahur dan menunggu azan shubuh. Setelah sholat subuh ia baru akan tidur hingga siang hari. “Pekerjaan tetap dilakukan hanya waktunya yang bergeser dan semua dikomunikasikan dengan rekan kerja. Yang jelas bulan puasa bukan menjadi halangan untuk beraktifitas.”jelasnya.

Namun, tidak semua orang bisa melakukan seperti yang ia lakukan. Seperti santri-santri di ponpes, ada santri lain yang tetap harus bekerja dari pagi hingga sore. Apalagi santri-santri yang mayoritas bekerja di jalananan misalnya mengamen. Bisa saja ia melakukan sahur tetapi karena tidak kuat, di siang harinya akhirnya ia membatalkan puasa. Ia tidak menyalahkannya. “Setidaknya mereka sudah berusaha dan bisa mengikuti suasana kebersamaan saat sahur, berbuka bersama, mengikuti kajian, atau saat belajar mengaji.”katanya.

Berbagai tantangan yang dihadapi selama bulan Ramadan, tidak menutup ruang bagi kawan-kawan queer untuk menggantungkan asa selama Ramadan nanti. Napol berharap di situasi yang tidak jelas ini, kawan-kawan queer memiliki ruang aman masing-masing, sehingga mereka bisa beribadah dengan aman dan khusyuk serta makin menumbuhkan rasa spiritulitas. “Semoga semua bahagia saat momen ramadan nanti.”katanya.

Tidak jauh berbeda, Fikri pun berharap kawan-kawan queer nantinya bisa beribadah dengan aman, rileks, dan tidak tertekan. Kawan-kawan queer muslim bisa menerima diri seutuhnya dan fokus pada hal baik dalam diri. Ibadah pun bisa dilakukan dengan nyaman. Mbak YS berharap ia dan santri lain bisa menjalankan ibadah puasa dan lebih istiqomah dalam beribadah. Selain itu ia juga berharap ia dan santri lain selalu dalam keadaan sehat karena saat bulan Ramadan, jam tidur berubah, jam istirahat bisa berkurang. “Dan ponpes bisa menjadi ruang atau rumah ibadah yang aman bagi kawan-kawan transpuan.”tegasnya.

0 comments on “Ketika Queer Menyambut dan Memaknai Ramadan

Leave a comment