Sekecil apa pun sebuah perlawanan atas ketidakadilan, tetaplah sebuah perlawanan. Apalagi jika ketidakadilan yang terjadi di negara ini semakin menjadi dan merugikan masyarakat luas. Bisa jadi inilah alasan para demonstran memecah panas dan hujan menjalankan aksi Indonesia Gelap beberapa waktu lalu.
“Aku muak sama sepak terjang pemerintah!”kata Inez saat saya tanya alasannya mengikuti aksi demonstrasi di Surabaya, Jumat, 21 Februari lalu. Ia menceritakan kegeramannya atas sepak terjak pemerintah. Berawal dari aksi 2019 protes UU Ciptaker, lalu aksi 2024 yang mengkritisi perubahan usia untuk pencalonan pilkada. Kemudian aksi Indonesia Gelap terkait dengan 100 hari kerja kabinet yang menurutnya makin urakan. Lebih lanjut, ia menjelaskan banyak sekali keputusan presiden yang terasa ngawur atau dibuat secara tergesa-gesa. Mulai dari pengangkatan staf khusus hingga menteri yang bukan berasal dari ranah profesi, peraturan soal kenaikan pajak dan harga barang juga seperti tidak berdasar pertimbangan matang.
“Aku paling marah tentu terkait efisiensi anggaran yang berujung ke pemecatan banyak pegawai. Lalu ketergesaan peraturan soal tabung gas waktu itu, serta isu penyempitan anggaran pendidikan dan kesehatan. Eh, malah banyak stafsus yang diangkat dan asalnya dari golongan artis.”geramnya.
Sementara itu Ratih yang mengikuti aksi Indonesia Gelap di Jakarta di hari yang sama, menyatakan alasannya mengikuti aksi tersebut. Setidaknya ada beberapa hal yang menjadi perhatian (concern) Ratih, yaitu pelaksanaan program MBG yang menurutnya serba ngaco, IKN yang tidak transparan hingga yang terbaru terkait penangkapan band Sukatani karena kritik mereka terhadap pemerintah. “Menurutku semua isunya udah terlalu ruwet untuk gak ditanggapi serius. Dan aku coba kontribusi dengan apapun yang aku bisa lakuin, termasuk demo langsung.”katanya. Apalagi dengan mengikuti aksi tersebut, Ratih juga belajar hal lain di luar isu yang menjadi concernnya. Misalnya isu terkait kepala daerah terpilih yang sudah dilantik, tetapi mereka tidak melaporkan dana kampanye.
Baik Inez maupun Ratih, keduanya memiliki concern masing-masing ketika mengikuti aksi. Begitu pula saat melakukan aksi, keduanya juga mengekspresikan keresahan mereka dengan cara masing-masing. Misalnya Ratih saat melakukan aksi, ia membicarakan isu yang menjadi concernnya dengan beberapa teman yang ia temui. Ia banyak belajar dan bertukar pikiran dengan mereka. Ia juga merasa isu yang menjadi perhatiannya, tervalidasi dengan mengikuti aksi tersebut.
Sementara Inez, sebelum mengikuti aksi Indonesia Gelap, ia beberapa kali mengekspresikan keresahannya lewat karya visual. Misalnya soal program MBG, maupun soal tagar #IndonesiaGelap yang ramai digunakan warga net belakangan ini dan memantik aksi serentak di banyak kota seminggu terakhir. “Waktu ikut dalam aksi di Surabaya, aku tidak membawa atribut khusus, tetapi beberapa hari terakhir aku aktif membagikan informasi-informasi penting seputar keselamatan peserta aksi dan ikut me-retweet di X atau membagikan ulang konten-konten yang mengkritik pemerintah di Instagram.”katanya.
Ada hal menarik yang ditemui Inez dan Ratih selama mengikuti aksi Indonesia Gelap. Inez bertemu dengan tiga ibu-ibu yang ikut turun aksi sebab anak-anak mereka harus bekerja dan tidak bisa bergabung (ikut aksi). Ada pula tim Paramedis Jalanan Surabaya yang mengalokasikan dana donasi dengan memborong es krim dari pedangan yang ada di lokasi untuk dibagikan dengan peserta aksi. “Katanya supaya aksi kali ini terasa manis.”kenang Inez.
Aksi Indonesia Gelap memang diikuti berbagai elemen masyarakat dan beragam latar belakang. Selain itu juga dilakukan dengan beragam cara. Seperti yang ditemui Ratih, ada yang membagikan makanan ringan (snack) untuk para peserta aksi secara gratis.
Aksi Indonesia Gelap tersebut bisa dikatakan sebagai upaya masyarakat luas untuk mengungkapkan keresahannya berkaitan dengan berbagai kebijakan pemerintah yang justru tidak pro rakyat kecil. Apalagi masyarakat minoritas. Banyak kebijakan yang dikeluarkan pemerintah justru merugikan. Namun, dengan menyuarakan protes berbagai keresahan yang dirasakan setidaknya bisa menjadi pengingat pada pemerintah agar lebih memperhatikan rakyat dan tidak asal dalam membuat kebijakan. Tentu ini tidak hanya bisa berharap bahwa satu aksi akan membuat perubahan. Butuh perjuangan lebih masif.
Inez sendiri berharap aksi yang dilakukan dapat menembus lapisan teratas agar negara sadar bahwa masyarakat kita nggak bisa dibodoh-bodohi lagi dan kebijakan publik yang dibuat lebih pro-rakyat dari golongan 99% (lapisan menengah-bawah). “Dan aku berharap rakyat akan selalu ingat rasanya kekuatan yang diperoleh ketika kita bersatu, supaya nggak lagi bisa dipecah-belah.”tegasnya.
Ratih memiliki harapan gerakan ini bisa lebih masif dan bertahan lama. Ia melihat satu unggahan di X terkait aksi (demo) yang dilakukan tersebut akan berlanjut (maraton). “Jadi memang harus kuat-kuatan. Aku harap kita bisa begitu, dan ngenalin kalau isu kita berkaitan. Secara khusus harapanku lebih banyak masyarakat yang bisa lihat teman teman yang termarjinalkan, termasuk minoritas gender dan seksualitas sebagai sesama warga dan mulai belajar unlearn tentang diskriminasi di tingkat sesama rakyat, untuk bisa mencapai tujuan bersama.”harapnya.
Perjuangan yang dilakukan Inez dan Ratih maupun para peserta demo lainnya tentu tidak berhenti di satu aksi. Suara-suara protes terus bisa didengungkan di aksi-aksi selanjutnya maupun melalui media sosial. Siapapun bisa ikut ambil bagian, termasuk Tabumania!

0 comments on “Meraba Asa di Tengah Aksi Indonesia Gelap”