Tabumania, dalam perayaan Hari Perempuan Internasional (IWD), kita bisa memaknainya bukan hanya sebagai perayaan semata. Melainkan sebagai momen untuk refleksi, menyuarakan narasi, maupun bisa juga diguanakan sebagai permulaan untuk tindakan lebih lanjut nantinya. Setidaknya dalam perayaan IWD, kita bisa ikut andil dalam perubahan atau perihal ketidakadilan yang dialami perempuan.
Nabila, perwakilan kolektif Perempuan Pengkaji Seni (PPS) menyampaikan pendapatnya terkait perayaan IWD. Menurutnya ketika membicarakan IWD, sebagai wujud gerakan bersama, kita bisa menyuarakan untuk keadilan dan masalah-masalah berkaitan dengan perempuan. “Pentingnya perayaan IWD, supaya kita bisa bersinergi karena itu (IWD) tingkatannya global ya, jadi kita rasanya gak bergerak sendiri, bergerak secara global, ternyata banyak juga teman-teman yang sama-sama memperjuangkan (isu-isu perempuan) gitu. Intinya bersinergi.”katanya.
Sementara bentuk perayaan bisa dilakukan dengan beragam cara. Bisa dengan melakukan aksi, membuat lokakarya atau workshop, atau kolaborasi membuat program bersama dengan komunitas atau organisasi lain. Setidaknya itulah yang dilakukan PPS selama ini.
“Selama tiga kali pelaksanaan IWD, PPS bekerja sama dengan IWD Surabaya dengan berkontribusi membuat poster aksi, kolaborasi membuat program, kelas-kelas maupun workshop. Namun, untuk tahun ini PPS membuat karya sendiri yaitu membut zine. Jadi, teman-teman PPS menulis, membuat cerita refleksi. Nah, nanti zine tersebut dibagikan waktu penyelenggaraan IWD berlangsung. Zine dibagikan secara free dan dirilis secara digital.”kata Nabila.
Lebih lanjut terkait zine tersebut, isinya kebetulan memang sedang rilis soal IWD, ada beberapa tulisan teman-teman yang membahas tentang kasus-kasus perempuan. Ada juga yang membahas tulisan perempuan di ranah domestik. “Ada yang berbasis riset teman-teman, ada juga yang isinya karya puisi, karya cerpen dan juga ilustrasi. Intinya isinya apa aja yang bisa kita bagikan ke teman-teman perempuan lain gitu.”tambahnya.
PPS sendiri berangkat dari kegiatan mahasiswi di kampus pada 2019. Saat itu beberapa orang tergabung dengan fokus kegiatan di pengkajian seni, sehingga mereka sering membuat tulisan, diskusi, lalu diajukan ke seminar. “Kemudian setelah COVID 2021, kami mulai menginisiasi bikin pameran sama teman-teman perempuan seniman. Jadi, kami memfasilitasi teman-teman perempuan untuk bikin pameran bareng di Surabaya. Dari grup pameran itu sampai sekarang berkembang. Anggota yang bergabung pun kebanyakan praktisi seni, tapi kami gak hanya terbatas praktisi seni. Malah dari berbagai latar belakang juga seperti dosen, peneliti, guru bahkan pedagang.”urainya.
Anggota PPS saat ini ada 22 orang, semuanya perempuan. Kebanyakan melakukan pertemuan online, tetapi mereka memiliki studio di Sidoarjo yang digunakan untuk kegiatan mereka. “Kebetulan di PPS sekarang belum ada tawaran kolaborasi. Sekarang kami fokus pada pengembangan kapasitas internal. (Kami) lagi aktif bikin PPS lab, dilaksanakan 2 minggu sekali, tukar pengalaman, kadang materi juga random. Kami bergantian setiap personal ngisi materi, sekadar sharing, mungkin penulisan atau teori.”katanya.
PPS selama ini bekerja sama dengan organisasi lain bisanya dalam bentuk program kegiatan. Misalnya saat COVID lalu, mereka membuat ruang belajar puan. Saat itu mereka bekerja sama dengan Curator Jogja. Mereka membuat kelas membahas teori gender dan pengkaryaan seni. “Jadi, kami membuka kelasnya terbuka untuk teman-teman area Jatim atau siapapun yang mau bergabung. System belajarnya online, karena saat itu sedang COVID. Kami juga membuat workshop dan pemeran juga.”kataya. PPS juga sempat melakukan pameran tunggal di Cemeti Jogja pada 2023. Mereka mengangkat isu-isu perempuan yang ada di Jatim. Salah satunya mereka mengangkat kembali isu 17 tahun Lumpur Lapindo.
Terkait dengan tantangan yang dihadapi perempuan terutama di ranah kesenian saat ini, menurut Nabila para perempuan kebanyakan memiliki peran-peran ganda. Misalnya selain melakukan kegiatan kesenian juga melakukan peran-peran domestik. Ketika ingin melanggengkan karir di kesenian juga masih terjebak di wilayah domestik.
“Jadi, isu-isu yang kami suarakan ya kebanyakan isu-isu yang ada di sekitar kita, terutama di Jatim. Misalnya kami sempat mengangkat isu perempuan di ranah industrial, kami sempat riset juga. Memang lumayan kompleks kalau ngomongin masalah perempuan.”katanya.
Sementara itu Nabila juga menyinggung terkait pentingnya penggunaan kesenian dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. Menurutnya seni merupakan wilayah aktivisme juga. “Jadi, kita juga bisa membagikan satu hal kritis lewat karya, kadang orang gak kepikiran ini orang bahas apa sih. Tapi ternyata dari hasil karya itu ditampilkan kita banyak melalui proses riset, temuan apa, terus sampai diimajinasikan secara visual jadi wilayah yang artistik yang mungkin lebih mudah diterima masyarakat daripada kita menyuarakan secara langsung gitu.”katanya.
Nabila berharap mereka bisa terus bergerak untuk menyuarakan isu-isu kecil maupun besar. “Kita, paling enggak kalau misalnya isu yang kita suarakan itu enggak didengar, setidaknya kita berani untuk menyampaikan gitu sih. Paling enggak kita bisa membawa perubahan sekecil apapun itu. Kehadiran kami juga sekaligus bisa menjadi support system teman-teman seniman di Jatim.”harapnya.
Nabila juga berpesan kepada para perempuan agar berani bersuara, meskipun suara tersebut tidak didengar. Intinya harus ada hal-hal kecil dari aksi yang dilakukan akan menjadi hal yang besar. “Berani untuk bicara, saling berjejaring untuk membangun ekosistem yang saling support bersama.”tegasnya.

0 comments on “Suarakan Ketidakadilan melalui Perayaan IWD”