Arka, seorang jurnalis-queer sedang duduk di tengah kerumunan orang banyak dengan kursi plastik berwarna biru. Ia memandang kosong, sambil sesekali tersenyum akibat celetukan aneh dari seorang laki-laki yang mengaku bernomor satu itu.
Selama ini, Arka menyembunyikan identitasnya sebagai seorang queer. Kadang, ia muak mendengar celoteh seksis supaya terlihat asyik dari mereka calon-calon pemimpin kabupaten ini.
“Mereka ini hidup di zaman kapan sih? benak Arka.
Pertanyaan ini mungkin terkesan angkuh, seolah para orang bernomor urut itu tak update atau aneh. Tapi, Arka merasa ditengah kemajuan teknologi dan banyak kritik yang muncul di media sosial, artikel juga berita masih belum mengedukasi para calon pemimpin ini.
“Mau jadi apa sih sebenarnya mereka? Kok ngotot bener. Padahal persoalan dasar tentang berkata baik saja belum bisa,” pikirnya lagi.
Arka yang dasarnya selalu penasaran terpancing menanyakan kepada salah satu laki-laki bernomor urut itu saat wawancara.
“Proyeksi Bapak ke depannya soal penanganan kekerasan seksual dan perlindungan perempuan apa sih, Pak?,” tanyanya. Lempeng.
Tiba-tiba sekumpulan orang yang berdesakan dan turut merekam jawabannya hening. Suasananya mencekam, Arka merasa sepertinya tidak ada yang salah dari pertanyannya.
“Hmm.. anu, begini,” jawab calon ini gagu.
“Ya pasti akan kami pikirkan. Ini penting lah ya, masa wanita disakitin, kan harusnya dilindungin,” jawab wakilnya. Disambut tawa Jurnalis lain dan tatapan mengejek dari Arka.
Arka sangat tahu, para calon ini hanya membual dan tak mampu memikirkan persoalan dasar yang sangat mendesak. Bagi mereka, wahana pemerintahan macam tambang batu bara. Gunanya mengeruk habis sumber dayanya dan membuncitkan perut-perut yang tak lapar itu.
Sania, rekan sesama jurnalis Arka tiba-tiba menariknya ke sudut ruangan.
“Ka, buru sini! Gue mau ngomong,” ajaknya.
Sania menatap serius Arka, “Lu serius ngasih pertanyaan begitu tadi?” tanya Sania.
“Lah! Serius banget, penting banget gue tahu dan publik tahu,” jawab Arka.
“Setidaknya mereka bisa membual kalau pun tidak tahu apa-apa,” tambah Arka.
Sania menatapnya tajam. “Lu bahayain diri lu sendiri Ka! Lu tahu mereka juga preman?” tanyanya.
“Gue tahu! Dan gue gak takut. Sudahlah, pertanyaan itu juga gak tendensius. Setidaknya bisa buat mereka mikir, ada aspek perlindungan perempuan dan anak yang perlu diperhatikan,” tegas Arka.
“Oke, but gue gak mau tahu kalau ada apa-apa sama lu nantinya,” tambah Sania.
Arka pergi dan mendengus. Baginya, kenapa Sania harus repot memperingatkannya soal calon-calon pemimpin itu. Justru Arka semakin merasa tidak nyaman dengan gelagat Sania.
Satrio, calon wakil pemimpin kabupaten itu memang terkenal dengan premanismenya. Bahkan, sering kali membayar jurnalis-jurnalis itu untuk membenahi namanya. Salah satunya, Sania. Jadi, Arka bukan sekali atau dua kali mendapatkan ancaman dari sesama rekannya se-profesi.
Arka tak pernah mundur. Esoknya ia buat headline berita soal kampanye dan kalimat seksis yang dilontarkan calon pemimpin itu.
“Seksisme Dianggap Remeh, Upaya Gaet Suara Rakyat Tapi Tak Paham Rakyat”
Berita yang ditulis Arka viral dan menarik perhatian publik. Cukup dibahas dan dibagikan ke mana-mana. Nama Arka tak ayal menjadi perbincangan di kabupaten kecil itu. Awalnya Arka merasa aman, hingga satu hari saat dirinya sedang bekerja dan didatangi oleh tiga orang berbadan besar yang mengaku Tim Sukses Satrio.
“Lu yang tulis soal kampanye kemaren? Lu orangnya siapa?” tanya salah satu orang yang rambutnya gondrong.
“Gue bukan orangnya siapa-siapa, gue cuma pekerja doang,” jawab Arka.
“Terus, apa maksud lu? Lu sengaja mau buat Satrio terlihat jelek?” tanyanya lagi.
“Gue gak punya maksud apa pun. Itu fakta lapangan. Gue punya kode etik, itu juga hasil dari jawabannya dia kan. Justru perilaku lu yang begini bakal buat Satrio makin jelek,” tambah Arka.
“LU TAKEDOWN ITU BERITA! ATAU BAKAL GUE BUAT LU CELAKA!” teriaknya sambil mendorong Arka dan menjatuhkan perangkatnya.
Arka hanya terdiam. Tak lama, beranjak pulang dan menerima berbagai notifikasi terkait dengan identitasnya sebagai queer tersebar. Arka sudah tahu hal ini pasti akan terjadi. Ia menarik selimutnya dan menangis.
Rara, sahabat Arka heboh mengetuk pintu kos Arka sambil membawa tentengan cemilan kesukaannya. Ia melihat foto sahabatnya di semua media sosial dan didoxing habis-habisan.
Arka dengan malas membuka pintu kamarnya dan menemukan sahabatnya dengan mata sembab. Lalu mempersilahkan masuk ke kosnya yang sempit.
“Arkaaaaaaaaaaaaa!” hambur Rara sambil memeluk Arka.
“Sudah, gue tahu ini bakal terjadi,” sambil membagi emosinya ke sahabatnya.
Setelah semua tenang. Arka dan Rara duduk di lantai sambil memakan cemilan.
“Setelah ini lu mau apa, Ka?” tanya Rara.
“Gak tahu, rasanya gue mau mati aja, capek. Ngomongin fakta malah dihujat,” ungkapnya.
“Ini bukan elo sih. Arka yang gue tahu dia gak akan gentar. Mau badai sebesar apa pun,” ungkap Rara.
“Tapi, pekerjaan ini bahaya banget gak sih, Ra?”
“Semua pekerjaan pasti bahaya Ka, lu tahu itu sejak awal. Tapi lu juga tahu apa yang lu perjuangkan juga gak mudah. Lu itu salah satu yang menyelamatkan gue waktu dipukulin suami gue dulu. Lu tahu itu gak mudah, tapi tetap lu terjang,” ujar Rara.
“Iya sih, tapi…” Arka ragu.
“Ka, lu paham banyak hal yang menakutkan di dunia ini. Lu gak jahat, lu gak nyusahin orang. Mereka yang jahat Ka, sudah persekusi identitas elu. Mereka yang jahat sudah diskriminasi elu, mereka yang jahat sesama manusia,”kata Rara.
Arka hanya diam.
“Ka, gue selalu kagum sama keberanian dan kecerdasan lu. Gue yakin gak cuma lu yang mikir si Satrio gak pantes buat dijadikan pemimpin, begitu juga yang lain. Gue inget sama kata-kata lu dulu kalau penindasan itu struktural, so perlu perlawanan yang terstruktur juga untuk melawannya,” tambah Rara.
Arka bangun dari duduknya, “Oke gue akan lebih kuat lagi. Gue sudah lewati hal yang lebih berat sebelumnya dan lebih mencekam. Gak peduli deh orang anggep gue apa. Gue gak merugikan orang lain juga dengan identitas sebagai queer. Toh, gue bekerja dan makan dari hasil kerja keras gue. Perjuangan gue melawan penindasan harus lebih keras lagi” tekadnya.
“Tapi please gue mau tidur dulu. Dari kemaren gue gak ada tidur hahaha” kelakar Arka sambil menarik selimutnya.
Kisah Arka merupakan salah satu tantangan queer yang ingin bekerja, berlawan dan berdampak bagi masyarakat. Lagi-lagi dunia tak pernah memandang queer lebih daripada identitasnya. Dunia tiba-tiba buta ketika tahu karya yang dihasilkan baik dan berdampak bagi masyarakat dihasilkan oleh seorang queer atau identitasnya sebagai LGBTIQ.
Artikel ini ditulis oleh Nawal, jurnalis dan Aktivis Queer yang berfokus pada isu kemanusiaan dan kesetaraan gender. Fokus melakukan advokasi dan membangun ruang aman. Penggemar karya Dan Brown dan fiksi lainnya.

0 comments on “Dilema Arka”