Aku menyadari bahwa aku telah berlari-lari tidak tentu arah selama berjam-jam ini. Entah kenapa aku tidak bisa berhenti. Aku terus berlari dibisiki dengan kata-kata bahwa aku harus berlari agar aku selamat dan bisa menyelamatkan lebih banyak orang. Siapa yang harus kuselamatkan? Entah.
Terengah-engah aku terus berlari, sambil terus melihat ke kanan kiri, depan belakang tidak ada yang mengikuti. Aku harus terbebas dari mereka yang mengejar, mereka yang berusaha membelenggu jiwa dan ragaku. Aku harus berusaha mengalahkan mereka-mereka yang memburuku. Mereka siapa? Entah.
Aku harus segera pergi ke sebuah tempat yang akan membawa kedamaian. Tempat yang bisa ditempati siapa saja. Tempat yang mengizinkan siapa saja melakukan segala sesuatu yang diinginkan. Di manakah tempat itu? Entah.
Dalam benakku akulah penyelamat jiwa-jiwa terlepas dari raga-raga yang terkungkung. Ada bisikan mantra-mantra yang mengatakan, “Aku adalah jiwa yang bebas, penyelamat diri. Aku adalah jiwa terpilih, pembebas diri. Aku adalah jiwa pemberani yang melawan ketidakadilan. Aku adalah jiwa itu.”
***
“Ka, jangan! Jangan pergi dengan kondisi seperti ini!” kata sosok perempuan yang aku kenali sebagai Uti ini. “Tidak! Aku harus pergi!” kataku sambil memakai ransel yang entah apa isinya. “Kalau kamu mau pergi, pakai pakaianmu dulu,” katanya lagi.
Aku melihat diriku, ternyata tak ada sehelai benangpun yang menempel di tubuhku. Aku bingung. Aku harus pergi karena bisikan-bisikan dalam diriku semakin membahana. Mereka tidak mau pergi juga. Kata-katanya semakin bertumpuk. Bisikan-bisikan semakin banyak. Mereka saling mendahului untuk mengatakan keinginannya padaku. Aku semakin termangu akan mengikuti yang mana. Belum lagi Uti pun makin cerewet dan makin kuat memegangiku.
“Brak!” Kudorong Uti dan kututup pintu kamarku.
***
“Diam! Diam! Semua diam!” Aku berteriak-teriak menyuruh semua orang di rumah untuk diam. Aku merasa semua begitu ramai. Berisik dan membuatku semakin tak terkendali. Aku mencoba untuk menenangkan diri. Memakai penyumbat telinga oranyeku yang selalu kupakai ketika merasa di sekelilingku begitu ramai. Tidak membantu. Aku kemudian mencoba untuk melakukan meditasi, cara yang paling kuanggap ampuh untuk membuatku tenang. Tidak membantu juga karena aku tak mampu melakukannya. Pikiranku semakin ramai. Bisikan kuat menyuruhku melompat tak kunjung pergi. Apa yang harus kulakukan?
“Ka. Ka.” Tok tok tok. Tiba-tiba ada suara memanggil dan ketokan pintu. Dari suaranya, itu kakakku. Aku heran bagaimana dia bisa sampai di sini. Setidaknya butuh waktu dua jam perjalanan untuk tiba di tempat ini.
***
Sepanjang perjalanan aku terdiam. Aku dibonceng kakakku menuju rumahnya. Aku tidak tahu bagaimana ceritanya aku luluh dan membukakan pintu untuknya. Kemudian mengiyakan ketika ia mengajakku pergi.
Namun, pikiranku masih saja ramai. Bisikan untuk pergi menjauh dari kakakku bermunculan. Mereka bersaing mengajakku melompat pergi.
“Mbak, Mbak.” Tiba-tiba pengendara motor di belakang memanggilku. Aku menoleh. “Tasnya masih kebuka.” Aku baru sadar ternyata aku juga membawa tas. Entah apa isinya.
***
“Mau apa kalian? Kalian mau membunuhku? Pergi! Pergi!” Aku berteriak-teriak tidak tentu. Aku merasa semua yang ada di sekelilingku membenciku. Mereka ingin aku hilang dari dunia ini. Membuatku berusaha untuk membela diri.
“Ka… Ka… sadar. Istigfar.” Kakakku berkali-kali membujukku.
Aku akhirnya dikunci di kamar kakakku. Aku tidak bisa keluar. Aku berteriak-teriak tidak tentu. Sambil menggedor-gedor pintu.
Terdiam aku melihat bayanganku di cermin. Berantakan. Rambutku awut-awutan. Bajuku acak-acakan. Lingkaran mataku menghitam. Aku tak ingat lagi sudah berapa hari aku tidak memejamkan mata dan beristirahat. Bahkan aku sudah tak ingat lagi kapan terakhir kali makan dan minum.
***
Bau pesing muncul dari tubuhku. Sepertinya aku tak sanggup menahan buang air kecil selama dikunci di kamar kakakku. Kasurnya pun basah dengan air kencingku. Berapa kali aku buang air kecil? Entah.
Aku tak sanggup melihat cahaya. Selain menyilaukan, ada yang memberitahuku setiap kali aku membuka mata, nyawaku akan diambil. Siapa yang mengambil? Apakah malaikat pencabut nyawa? Ataukan iblis? Entah.
Aku sudah menyerah. Aku biarkan saja suara-suara yang berbisik padaku saling berebutan untuk bersuara. Tapi aku tak lagi teriak-teriak. Karena aku merasa aman dengan terus memejamkan mata.
Sebentar. Aku merasa dipegangi beberapa orang di sekelilingku. Tidak hanya satu tapi banyak. Dan lagi, ada yang membacakan ayat-ayat Al Qur’an. Sepertinya aku diruqyah. Sebentar. Mengapa aku diruqyah? Mengapa?
***
Sesaat sebelum meninggalkan ruangan, sekilas aku mendengar psikiater tersebut mengatakan kepada kakakku. “……biasanya para pengidap skizofrenia mengalami delusi maupun halusinasi. Adakalanya mereka mendengar atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi.”
Aku linglung. Aku terhuyung. Ting. Ponselku berbunyi. Melihat ponselku. Melihat emailku. Aku buka email dari Ela, perempuan yang begitu kupuja. Dia bilang, ”Sudah kubilang jangan menghubungiku lagi. Aku bukan pacarmu. Aku bukan pacar siapa-siapa. Jangan membuatku melakukan suatu hal yang akan membuatmu menyesalinya.”
Aku bingung. Mengapa dia marah sekali dalam emailnya. Segera aku buka riwayat email tersebut. Aku kaget dengan deretan email yang kukirim untuknya. Aku merasa seolah-olah dia telah bicara padaku padahal dia sama sekali tidak menghubungi aku.
Aku semakin linglung. Mencoba menghubungkan kata-kata psikiaterku dan email perempuan ini. Siapa aku? Apa yang terjadi padaku?

0 comments on “Jiwa yang Hilang Bersamanya”