Di sebuah kota kecil yang dipenuhi oleh gemerlap lampu kota, ada seorang perempuan bernama Sara. Bagi siapa pun yang melihatnya dari luar, Sara terlihat seperti perempuan yang memiliki segalanya: karir yang sukses, keluarga yang bahagia, dan senyuman yang selalu tersedia di wajahnya. Namun, di balik kerlap-kerlip itu, Sara sedang berjuang dalam pertempuran yang gelap dan tak terlihat: melawan kesehatan mentalnya sendiri.
Sara tidak pernah menduga bahwa dirinya akan berada di dalam labirin gelap yang disebut kesehatan mental. Semuanya dimulai ketika dia merasa cemas dan terbebani oleh tekanan pekerjaan yang meningkat. Sebagai seorang manajer pemasaran di sebuah perusahaan besar, Sara selalu merasa dituntut untuk memberikan yang terbaik di setiap kesempatan.
Dengan beban kerja yang terus bertambah, Sara merasa semakin tercekik oleh rasa cemas dan stres. Dia mulai kesulitan tidur, merasa tegang setiap kali harus menghadapi rapat atau presentasi, dan terkadang merasa tidak mampu mengendalikan pikirannya yang terus berputar.
Pada awalnya, Sara berusaha untuk mengabaikan gejala-gejala tersebut, berpikir bahwa ini hanya masalah sementara yang akan segera berlalu. Namun, seiring waktu, gejala-gejala tersebut semakin memburuk, dan Sara menyadari bahwa dia harus menghadapi kenyataan bahwa dia mungkin mengalami gangguan kesehatan mental.
Pertarungan Sara melawan kesehatan mentalnya dimulai dalam diam. Dia merasa malu untuk berbagi perasaannya dengan orang lain, khawatir akan dianggap lemah atau tidak mampu mengatasi masalahnya sendiri. Sebagai perempuan yang selalu berdiri teguh di depan dunia, Sara tidak ingin mengakui bahwa dirinya rapuh di dalam.
Dia mencoba berbagai cara untuk mengatasi stres dan kecemasannya sendiri. Mulai dari meditasi hingga olahraga, Sara mencoba segala sesuatu yang dia pikir bisa membantunya merasa lebih baik. Tetapi, semakin keras dia berjuang, semakin gelap pula perasaannya.
“Sudahlah, semua ini gak berguna,” kata Sara pada dirinya sendiri sambil menutup mukanya untuk menghapus air mata yang hampir tumpah.
Di balik senyumnya yang terus tersenyum, Sara merasa hancur di dalam. Dia merasa seperti dia terperangkap dalam kegelapan yang tak berujung, tanpa harapan untuk melihat cahaya di ujung terowongan. Pada suatu titik, Sara menyadari bahwa dia tidak bisa melanjutkan perjuangannya sendiri. Dia memutuskan untuk mencari bantuan, meskipun itu berarti dia harus melangkah keluar dari zona nyamannya dan menghadapi ketakutan terbesarnya: ketakutan akan penolakan dan penghakiman.
Dengan gemetar, Sara menghubungi seorang psikolog bernama Andrea dan membuat janji pertemuan. Awalnya, dia merasa cemas dan ragu-ragu, tetapi begitu dia mulai berbicara dengan Andrea, dia merasa lega. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Sara merasa didengarkan, dipahami, dan diterima.
Andrea menuntun Sara untuk mengeksplorasi akar dari kecemasan dan stresnya. Dia belajar strategi untuk mengatasi serangan kecemasan, teknik relaksasi untuk menenangkan pikirannya, dan keterampilan koping untuk menghadapi situasi yang menantang.
Meskipun dia merasa lega telah menemukan bantuan yang dia butuhkan, Sara menyadari bahwa perjuangan melawan kesehatan mental bukanlah pertempuran yang dia harus hadapi sendirian. Dia memutuskan untuk mendobrak tabu dan berbagi pengalaman dan perasaannya dengan orang-orang terdekatnya.
Pertama-tama, dia berbicara dengan pasangannya, Rubi. Meskipun awalnya terkejut, Rubi dengan cepat memberikan dukungan dan pemahaman yang besar kepada Sara. Dia menjanjikan untuk selalu berada di sampingnya, tanpa memandang apa pun yang terjadi.
“Sara, kita lalui ini bersama ya. Aku akan berusaha untuk selalu ada di sampingmu,” ucap Rubi.
Selanjutnya, Sara juga memilih untuk berbagi pengalamannya dengan teman-teman dekatnya. Dia menyadari bahwa dengan membuka diri, dia tidak hanya memberikan dirinya kesempatan untuk merasa lebih baik, tetapi juga membuka pintu bagi orang lain untuk berbicara tentang kesehatan mental.
Dengan bantuan dari orang-orang terdekatnya dan dukungan dari Andrea, Sara mulai membangun kembali kehidupannya. Dia belajar untuk mengenali dan menghormati batasannya, dan untuk tidak terlalu keras pada dirinya sendiri.
Rubi dan Sara juga mulai menjalani sesi terapi bersama, di mana mereka belajar cara terbaik untuk mendukung satu sama lain dalam perjuangan melawan kesehatan mental. Mereka belajar untuk mendengarkan satu sama lain dengan empati, untuk memberikan ruang bagi perasaan dan pengalaman masing-masing, dan untuk mengatasi tantangan bersama sebagai pasangan.
Perlahan tapi pasti, cahaya mulai kembali menyinari kehidupan Sara. Meskipun masih ada hari-hari gelap dan tantangan yang harus dihadapi, dia tahu bahwa dia tidak sendirian. Dia memiliki cinta, dukungan, dan keberanian untuk terus maju, dan untuk tidak pernah menyerah dalam perjuangan melawan kesehatan mentalnya.
“Sara, apa yang kamu alami sekarang adalah cerminan dari jutaan perempuan di seluruh dunia yang sedang berjuang melawan kesehatan mental mereka sendiri. Meskipun kegelapan itu terasa terlalu berat untuk ditanggung, namun ada cahaya bagi mereka, kamu yang bersedia mencarinya.” ucap Andrea saat sesi konseling.
Sejak mengikuti beberapa kali sesi konseling, Sara terus berupaya untuk menyadari apa yang ia rasakan, pikirkan, mendengar diri sendiri, dan memberikan penguatan diri bahwa perjuangan melawan kesehatan mental bukanlah tanda kelemahan, tetapi tanda keberanian dan kekuatan. Dengan mencari bantuan, berbicara dengan orang-orang terdekatnya, dan menerima dukungan yang ada, dia menemukan kekuatan untuk bangkit dari kegelapan dan menyulam harapan yang baru dalam hidupnya.
Sara juga belajar untuk memberikan dirinya kesempatan untuk istirahat dan pulih, untuk merawat dirinya sendiri dengan penuh kasih sayang dan penghargaan. Dia menemukan ketenangan dalam melakukan aktivitas-aktivitas yang dia sukai, seperti berjalan-jalan di taman, bermain musik, atau membaca buku-buku yang menginspirasi.
Di balik semua itu, Sara juga menyadari bahwa perjalanan untuk sembuh atas kesehatan mentalnya tidaklah linier. Ada hari-hari di mana dia merasa kuat dan optimis, dan ada hari-hari di mana dia merasa lemah dan putus asa. Tetapi dia tahu bahwa setiap langkah kecil yang dia ambil membawa dia lebih dekat kepada keseimbangan dan kedamaian yang dia cari.
Penulis: Ayunita Xiao Wei, akrab disapa Ayun (They/She). Seorang lulusan Master Seni Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta (2023). Ayun bergabung di Rumah Seni dan Budaya Feminis (Qbukatabu) dalam Unit Pengelolaan Pengetahuan sejak 2020. Karyanya dapat dilihat di artisanjuice.my.id.

0 comments on “Melawan Gelap”