Buka Layar

Tuhan, Diriku, dan Keadaan

Aku Ade, umur 31 tahun, lahir 11 September 1992. Aku seorang transmen. Hidup sebagai anak tunggal adalah tuntutan besar yang ada di kehidupanku. Besar dan tumbuh dari cinta dan kasih sayang seorang ibu membuat menjadi sangat melankolis, apa yang terlihat sedih dapat membuatku meneteskan air mata. Begitu juga di saat kedua orang tuaku penuh harap aku akan menjadi penerus yang tampil harus sesuai ekspekstasi pandangan masyarakat ataupun keluarga untuk menjadi feminin. Hanya saja, bertolak belakang dengan hal yang ada pada diriku bahwa aku terlahir sebagai seorang perempuan, tetapi berjiwa lelaki membuatku nyaman berpenampilan macho. Membuat hal itu banyak konflik dan masalah di hidupku. Namun, dengan keyakinan dan penuh proses yang kulalui membuatku tersadar bahwa kebencian hanya datang sesaat.

Pembuktian yang baik akan tetap selalu ada di pandangan dan di tengah perbincangan mulut manusia akan hinaan dan cemoohan dalam diriku. Saat sedang ingin berdiri banyak hal yang mematahkan semangatku hingga jatuh tersungkur bahkan lumpuh akan perjalanan kehidupan ini sudah kulalui. Namun, dengan cinta, kebaikan, dan doa aku dapat berdiri sebagai bintang di jalan dan kakiku sendiri. Ada waktu yang mana hari itu aku tergelincir lagi oleh keadaan bahkan membuatku tak berdaya bangkit ketika sosok atau seseorang yang sangat kucintai lebih dari apapun di dunia ini telah menghembuskan nafas terakhirnya di hadapanku yaitu sosok ibu luar biasa yang seharusnya saat ini berada di sampingku, tetapi meninggalkanku tanpa pesan terlebih dahulu. Betapa menjeritnya aku pada saat itu hingga air mataku tak terbendung jatuhnya. Harapan, kekuatan, dan semangat yang selama ini kutanamkan dalam jiwaku seperti tidak ada guna dan artinya pada saat itu. Hingga aku berkata semua akan usai dan tidak akan seindah yang aku bayangkan. Hari berlalu semakin membuatku rindu akan kehilangan itu. Namun, dengan doa aku selalu berharap kepada Tuhan agar Dia selalu menguatkan aku dalam kesendirianku. Aku ingin bangkit, tapi tidak dapat berdiri, ingin berteriak seperti tidak ada suara, itulah aku pada saat kehilangan ibuku.

Namun, Tuhan memberikan jalan lain untuk aku harus melanjutkan kehidupanku. Tidakkah aku yang masih ada bisa melanjutkan kebahagiaan yang sudah tiada. Pesan ibuku, aku harus bahagia setelah dia tiada, dengan penghapusan air mata berat rasanya senyumku kuperlihatkan oleh dunia. Namun, jiwa ibuku tertanam di dalam benakku bahwa aku harus bahagia dan kuat. Hingga Tuhan memberikan jalan, dengan langkah tertatih-tatih aku bangkit hingga aku memutuskan untuk hidup sendiri dan pergi dari rumah yang penuh kenangan itu. Sendiri membuatku menangis di malam hari, terisak-isak oleh keadaanku sendiri membuatku hampir ingin mengakhiri diri yang tak pantas bahagia di dunia ini. Namun, Tuhan menyadarkan aku berkali-kali bahwa hidup ini akan lebih indah jika aku bisa mengikhlaskan yang sudah pergi.

Sebelumnya tidak pernah terpikirkan, bahwa hari itu akan tiba, doa yang selama ini aku langitkan terkabul. Bahkan melebihi apa yang kupikirkan. Awalnya aku hanya iseng saja bermain media sosial ternyata justru membuatku dikenal banyak orang. Bukan main luar biasa hadiah Tuhan yang diberikan padaku. Aku tidak tahu, lama atau sebentar hal ini akan aku jalani. Namun, aku percaya bahwa hal yang terjadi saat ini adalah proses dari kesabaran yang aku jalani. Menurutku, hidup yang dijalani dengan keikhlasan adalah hal terbaik untuk kita dapat menemukan hal baik juga nantinya. Karya kecil yang kulakukan di media sosial menjadi karya besar bagi tontotan banyak orang. Aku selalu bersyukur dengan segala hal yang Tuhan berikan padaku setiap harinya. Aku berusaha memberikan karya-karya positif bagi orang lain. Mungkin terlihat kecil atau sepele, tetapi hal tersebut mampu memberikan kesan yang baik dalam hidupku.

Dalam kesendirianku, dalam doaku, dalam hari-hariku kujalani dengan pelan peran-peran hidupku yang mulai bisa melawan waktu hingga Tuhan memberi aku kesempatan menjadi bintang dikenal banyak orang yang sama sekali tidak pernah kubayangkan. Betapa sekarang aku berada di tengah-tengah ketenaran diriku, berjumpa dengan orang-orang baru membuatku tersadar bahwa Tuhan tidak membiarkan aku kesepian dan sendiri. Dengan diriku sebagai seorang transgender tidak membuat orang membenciku hingga aku merasa pantas di tengah-tengah masyarakat dan manusia yang sama memandangku tanpa perbedaan. Jalan Tuhan memang penuh rahasia. Di tahun ini aku banyak kehilangan. Namun, di tahun ini aku banyak diberi kekuatan dan kebahagiaan. Aku berharap bahwa ibuku tersenyum dan bahagia melihatku dari surga sana. Aku mandiri, aku hebat, dan bangga pada versi terbaik di diriku sendiri. Aku juga percaya bahwa keberhasilanku saat ini tidak lepas dari doa alm. Ibuku yang ingin anaknya bahagia dan mencapai kesuksesan. Meskipun kerinduan terhadap ibuku selalu ada, tetapi aku berharap semua hal yang terbaik saat ini bisa selalu membersamaiku.

Artikel ini ditulis oleh Bang Ade

Bang Ade adalah peserta AKSARA (lokAKarya penuliSAn beRsama media Alternatif).

Unknown's avatar

Portal pengetahuan dan layanan tentang seksualitas berbasis queer dan feminisme. Qbukatabu diinisiasi oleh 3 queer di Indonesia di bulan Maret 2017. Harapannya, Qbukatabu bisa menjadi sumber rujukan pengetahuan praktis dan layanan konseling yang ramah berbasis queer dan feminisme; dan dinikmati semua orang dan secara khusus perempuan, transgender, interseks, dan identitas non-biner lainnya.

0 comments on “Tuhan, Diriku, dan Keadaan

Leave a comment