Ini cerita tentang IMoF, Independent Men of FLOBAMORA. IMoF adalah salah satu komunitas Lesbian Gay Biseksual Transgender (LGBT) yang berada di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di kota Kupang. IMoF mempunyai sejarah dalam memperjuangkan hak-hak dasar untuk teman-teman LGBT. Berbagai diskriminasi stigma maupun persekusi sudah dialami oleh kelompok LGBT baik itu dari keluarga lingkungan maupun aparat hukum. Contohnya dari pihak keluarga. Banyak teman LGBT diusir dari lingkungan mereka, ada pula yang dilempari batu dan cibiran sedangkan dari aparat hukum mereka sering kali disuruh untuk membuka baju dan digunting rambutnya sampai tidak tersisa sehelai pun.
18 Maret 2010 adalah tanggal di mana IMoF terbentuk di inisiasi oleh Ridho Rame Herewira selaku ketua dan beberapa teman lainnya. Terbentuknya IMoF ini dilatarbelakangi karena keresahan dan ketakutan teman-teman karena sering terjadi diskriminasi dan persekusi. IMoF sendiri awalnya adalah komunitas yang mengakomodir teman-teman gay dan biseksual saja. Namun, seiring waktu berjalan ternyata banyak dari teman transpuan,transmen dan lesbian yang ikut bergabung karena tingkat diskriminasi yang sering dialami teman-teman. Melalui IMoF lah mereka mendapatkan tempat aman nyaman dalam berbagi cerita keluh kesah yang mereka alami sendiri.
Meskipun demikian, IMoF juga mengalami berbagai kendala dalam setiap melakukan aktivitasnya. Terutama karena kebanyakan anggota-anggotanya memiliki aktivitas dan kesibukan masing-masing. Namun, untuk mengatasinya mereka sering berembug atau berkomunikasi untuk menentukan waktu yang tepat agar bisa hadir dalam pertemuan. Selain itu kendala lain yang dihadapi adalah lokasi tempat tinggal yang berbeda-beda dan jauh lokasinya.
Dalam perjalanan IMoF sendiri, banyak hal yang sudah dilakukan seperti menjadi wadah persaudaraan dan kekeluargaan, tempat berbagi sebagai sesama individu, menjadi ruang aman dan nyaman dalam bercerita maupun berekspresi. Berbagai perjuangan IMoF dengan beberapa kegiatan yang dilakukan kurang lebih 13 tahun ini IMoF sudah dapat mengubah perspektif negatif dari masyarakat umumnya di kota Kupang akan keberagaman melalui pelatihan-pelatihan. Contohnya pelatihan Sexual Orientation Gender Identity Expression and Sex Characteristic (SOGIESC) kepada berbagai lembaga, instansi, tokoh agama dan organisasi-organisasi yang bergerak di isu kemanusiaan. Walaupun belum semua masyarakat teredukasi tentang SOGIESC, khususnya generasi Z saat ini yang masih belum paham dan mengerti tentang keberagaman masih melakukan diskriminasi terhadap teman-teman transpuan.
Untuk saat ini IMof sendiri telah melakukan berbagai kegiatan dimana IMof mengelar diskusi bertajuk SOGIESC. Acara ini di hadiri oleh awak jurnalis dari beberapa media yang ada di kota Kupang dengan tujuan utama membahas pemberitaan yang ramah terkait dengan orientasi seksual, identitas gender, ekspresi gender dan karakteristik seks sekunder. Diskusi yang dipandu oleh Kak Ana Djukana menjadi wadah untuk merangkul pemahaman yang lebih mendalam mengenai isu-isu sensitif terkait SOGIESC.
Dan dari hasil pemantauan Aliansi jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan Sejuk, sejumlah media yang mengabarkan isu keberagaman belum sesuai dengan pedoman yang dikeluarkan oleh Dewan Pers. “Hal ini mungkin di karenakan perspektif yang tidak dimiliki selain ketrampilan dan wawasan jurnalis, sehingga membuat pemberitaan SOGIESC menjadi sesuatu yang menakutkan di masyarakat” jelas Ana Djukana. Karena itu, lanjut Ana Djukana, IMoF NTT mengelar diskusi ini, agar para jurnalis memiliki persamaan persepsi agar menjadi pedoman dalam menulis isu SOGIESC.
Sementara itu Ketua IMoF atau biasa disebut Kak Ridho R. Herewila yang menjadi pemateri SOGIESC, menekankan pentingnya peran media dalam membangun pemahaman yang baik terhadap keberagaman di masyarakat, karena sejauh pengamatan selama ini, masih banyaknya jurnalis yang kurang memahami SOGIESC. Akibatnya pemberitaan media secara tidak langsung sering membangun deskriptif yang semakin mencemaskan masyarakat dengan isu ini.
Dia juga mengatakan, kelompok minoritas masih terdapat diskriminasi dalam memilih, mendapatkan dan menjalankan pekerjaan khususnya di sektor formal terhadap mereka yang memiliki identitas, ekspresi gender yang berbeda. “Bahkan tidak terlepas dari nilai, pandangan, budaya bahkan sistem yang sudah terbentuk yang menganggap semua orang yang berbeda dari heteronormatif adalah tidak normal” ungkapnya.
“Melihat masih cukup banyak komunitas ragam gender dan seksualitas khususnya di kota Kupang yang masih mengalami diskriminasi dan peminggiran dalam segala aspek kehidupan maka menjadi penting untuk melakukan workshop jurnalis Melek SogieSC” katanya.
Ada pula kegiatan rutin tiap bulan yang dilakukan IMoF yaitu Forum Pelangi Kasih. Forum ini beranggotakan para orang tua dan kerabat terdekat kawan-kawan komunitas LGBTQ. Di dalamnya juga terdapat kawan-kawan media, tokoh agama seperti pendeta. Sehingga bisa dikatakan forum ini memiliki pengaruh besar bagi IMoF karena para anggota Forum Pelangi Kasih mendukung kegiatan-kegiatan yang IMoF lakukan. Tidak jarang mereka juga memberikan nasihat agar saling jaga dan saling mendukung. Agenda yang paling sering dilakukan dalam Forum Pelangi Kasih selalu ada pertemuan dan membahas isu-isu yang terjadi di IMoF setiap bulannya. Dan untuk meningkatkan silaturahmi anggota IMoF, anggota Forum Pelangi Kasih dan kerabat terdekat mereka mengadakan family gathering setahun sekali.
Artikel ditulis oleh Ukhe.
Ukhe adalah peserta AKSARA (lokAKarya penuliSAn beRsama media Alternatif).

SEBENARNYA ITU BUKAN DIBUATBUAT,Sudah taqdir mereka yang juga punya hak hidup seperti orang normal.
apapun segala sesuatunya bisa menerpa seseorang dengan sendirinya tidak serta merta harus dibenci,bahkan dibinasakan.
🙏🏻.cuma pendapat.
LikeLike