Tabumania, adakah yang suka menonton pertunjukan tari? Kapan terakhir kali menonton pertunjukan tari. Profesi sebagai penari terkadang masih dianggap sebelah mata atau diremehkan oleh sebagian orang. Hal ini membuat saat penawaran harga pun juga terkesan asal-asalan, minta bagus saat tampil, tapi dibayar murah. Apalagi ada juga yang menganggap seorang penari bisa “dipakai” (diajak melakukan aktivitas seksual). Padahal tidak semua penari seperti itu.
Hal ini disampaikan seorang penari dan seniman, Yasinta Desi Nataliawati saat menjelaskan suka duka menjadi seorang penari. Yasinta sudah 20 tahun berprofesi sebagai penari. Ia berprofesi sebagai penari sejak masih kuliah. Namun, sejak masih kecil ia sudah menari. Saat kuliah memilih penjurusan sebagai koreografer atau penata tari dan juga ikut sanggar. Selain itu dalam perjalanannya belajar menari, Yasinta juga belajar dari banyak seniman dan juga maestro tari di Solo hingga saat ini. Dengan menari itulah ia bisa keliling Asia dan Eropa. Berbagai negara ia kunjungi seperti Malaysia, Singapura, Amsterdam, Belgia dan lainnya. Ia menekuni tari kontemporer atau tari modern klasik atau modern lepas atau tari tradisi yang dikembangkan lebih luas dan modern.
Lebih lanjut Yasinta mengungkapkan pada dasarnya ia suka menari dan suka belajar menari dengan siapapun. Ia bekerja keras untuk memperoleh posisinya saat ini. Ia rutin belajar dan berlatih. Itulah mengapa ketika ada yang menyepelekan profesi penari dan ada anggapan bahwa seorang penari bisa “dipakai” juga membuatnya resah. “Kok bisa-bisanya seperti itu. Ya kalaupun ada penari yang kayak gitu ya itu urusannya masing-masing, tetapi kan tidak semua penari seperti itu.”tegasnya.
Profesi penari tidak bisa dianggap remeh. Selain latihan rutin yang dilakukan, segala uba rampe (peralatan pendukung) tari juga jangan dilupakan. Misalnya untuk tata rias (make up) dan busana tari seorang penari. Belum lagi jika menggunakan bunga. Itu semua tidak bisa dianggap murah. “Seniman itu ada standar-standarnya, tetapi masih saja ditawar murah (fee/biayanya).”katanya.
Yasinta tidak hanya latihan menari di satu tempat, Ia juga latihan menari di Mangkunegaran. Latihan menari di Mangkunegaran setiap hari Rabu atau disebut Rebon mulai jam 10 – 12 dengan gamelan live. Latihan tersebut dilakukan di Pendopo Ageng. Ada syarat khusus untuk pakaian yang dikenakan. Bagi penari perempuan menggunakan sanggul konde, kebaya, dan sampur. Sedangkan penari putra menggunakan jarik wiron, pakai kaos hitam atau putih, dan blangkon. “Ada juga latihan tari di hari Senin dan Sabtu. Kalau Senin disebit Nyenen kalau Sabtu disebut Seton atau nyore. Dilakukan jam 16.30 sampai menjelang Maghrib. Pakaian yang dikenakan bebas, yang penting tidak menggunakan celana jeans.”urainya.
Latihan menari di Mangkunegaran tidak hanya sekadar latihan saja, tetapi juga ada kalanya tampil menari. Misalnya ketika ada jamuan royal diner atau ketika ada tamu. Biasanya akan menunjuk penari Langen Praja, penari-penari yang memperoleh jatah menari. Misalnya akan menari gambyong lima penari.
Sementara itu peranan dalam prosesi keraton, Yasinta memperoleh peranan tersendiri di Mangkunegaran. Ia didapuk menjadi peranan yang disebut Mbah Kuthuk. Peranan ini memiliki tugas membuat api atau obor yang ada di sebuat tempat bernama bokor, membuat api lalu diberi dupa atau kemenyan. Biasanya dua orang, ia bersama seorang teman. ”Peranan Mbah Kuthuk ini keluar ketika menari Bedoyo Anglir Mendung, waktu jumenengan, kayak mengantarkan gitu. Lalu duduk di pojokan dekat soko/tiyang nanti mengipasi api terus sambil memberi kemenyan atau dupa sampai tarian selesai yah sekitar 1 jam begitu. Dan posisinya jengkeng atau nimpuh terus selama 1 jam. Ya gringgingen (kesemutan) hehe tapi memang harus begitu. Setelah para penari Bedoyo naik, nanti saya sebagai Mbah Kuthuk juga naik, saya harus laku ndodok menuju menuju soko sambil mengipasi dupa sampai selesai. Sampai penari laku beksan, saya berdiri lalu kembali laku ndodok lalu setelah turun tangga saya kembali jalan mengikuti penari Bedoyo.”jelasnya.
Selain sebagai Mbah Kuthuk, prosesi lain yang diikuti Yasinta di Mangkunegaran misalnya ketika membutuhkan peran prajurit dalam jumlah banyak. Ia menjadi salah satu prajurit perempuan. Kemudian ketika bulan Suro ia juga ikut mubeng (mengitari) beteng satu putaran. Ia berada di belakang pusaka pertama.
Dalam menari Yasinta memiliki filosofi yang membuat menari menjadi semakin bermakna. Menurutnya menari adalah mengungkapkan ekspresi jiwanya. Jadi, ketika ia menari ia akan berusaha agar bisa mengekspresikan jadi sebuah karya dengan konsep yang telah diberikan. “Jadi saya harus bisa mengekspresikannya, aku harus bagaimana dengan konsep tari yang saya bahakan ini, karakter saya harus bagaimana. Nah, itu saya harus bisa mempelajari semua itu. Karena niatnya saya selalu mau belajar dan itu memang selalu saya lakukan dengan berusaha untuk memberikan hasil yang memuaskan baik untuk saya maupun untuk audience (penonton).”jelasnya.
Ia berharap profesi penari semakin dihargai baik sebagai profesi maupun secara finansial. Misalnya mengajak para penari untuk pentas, setidaknya sudah mengerti atau tahu standar-standarnya. Jadi, tidak sekadar menawar. “Saya berharap supaya kitab isa maju bareng-bareng, sama-sama menguntungkan. Semakin ke sini itu kita gak munafik masalah materi, tetapi semakin maju perkembangan kan beli bedak juga mahal, lalu nari pakai kembang, belum lagi kostumnya. Kadang ada yang minta harga teman, tapi ya gimana. Harapannya ya bisa saling menghargai, saling mengerti lah.”tegasnya.

0 comments on “Jangan Sepelekan Profesi Penari”