Buka Layar

Moxie, suara nyaring perempuan muda soal pelecehan seksual di sekolah

Judul: Moxie | Sutradara: Amy Poehler | Produser: Amy Poehler, Kim Lessing, Morgan Sackett | Durasi: 1 Jam, 51 Menit

Siapa yang kangen masa-masa di sekolah? Atau ada Tabumania yang justru masih sekolah? Pastinya seru kalau bisa belajar bersama lagi di kelas. Bisa kerja kelompok, nyuri-nyuri makan di jam mata pelajaran, bahkan merasakan sensasi deg-degan saat guru yang terkenal killer mengajar.

Kehidupan di sekolah khususnya sekolah menengah atas selalu memiliki cerita; baik yang unik, menyenangkan, menyedihkan, atau memalukan. Orang bisa saja tertawa hanya dengan mengingat pengalamannya kabur dari jam-jam pelajaran, tetapi bisa saja orang langsung sedih begitu ingat tentang perundungan yang dialami semasa sekolah.

Ngomongin soal sekolah memang tidak pernah membosankan. Oleh karena itu cerita tentang masa-masa sekolah kerap menjadi topik utama dalam sebuah film. Katakanlah di Indonesia pernah ngetrend film dengan latar belakang anak sekolahan seperti Galih dan Ratna, Ada Apa Dengan Cinta?, bahkan Dilan. Sayangnya, tipikal film-film anak sekolahan kerap dilekatkan dengan romansa atau visual romantis para lakonnya. Jarang banget film yang secara khusus berani mengkritik kehidupan di sekolah yang nggak melulu manis-manis.

Jika Tabumania kepo pengen nonton film anak sekolah yang anti mainstream, film Moxie sangat cocok untuk mengobati kerinduan dan menambah pengetahuanmu. Moxie merupakan film yang diangkat dari novel Young Adult karya Jennifer Mathieu. Alur ceritanya masih relevan dengan kisah anak sekolah di Indonesia. Misalnya tentang persahabatan, rasisme, permasalahan tentang kekerasan seksual, hubungan ibu dan anak, dan topik-topik penting lainnya.

Tanpa bermaksud spoiler nih, film Moxie yang dapat dinikmati di Netflix ini menggaungkan tentang feminisme. Perjuangan sekelompok perempuan muda untuk mendapatkan keadilan dan kesetaraan di lingkungan sekolahnya.

Tokoh utama di film Moxie adalah seorang perempuan INTJ, demikian si tokoh memperkenalkan dirinya. INTJ biasanya kita kenal dengan kepanjangan dari Introverted, Intuitive, Thinking, and Judging. Sebuah kepribadian yang kerap muncul dalam test psikologi. Sesuai dengan perkenalannya, tokoh utama yaitu Vivian, di awal cerita digambarkan pendiam dan tipikal menghindari konflik.

Vivian merupakan anak dari seorang ibu yang masa mudanya dikenal dengan keberanian untuk memberontak. Di suatu malam, Vivian memasuki ruangan yang digunakan ibunya untuk menyimpan barang-barang yang dimilikinya sewaktu muda. Dari situ Vivian kemudian mendapatkan inspirasi untuk membuat selebaran bernama Moxie yang mulanya disebarkan hanya di toilet khusus perempuan di sekolah.

Moxie jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia artinya keberanian, yang lahir dari kegelisahan Vivian melihat permasalahan yang dialami oleh teman sekelasnya yang mendapat kasus pelecehan seksual. Di film ini, Vivian bersama dengan perempuan muda lainnya akhirnya mendobrak kebiasaan di sekolahnya yang selama ini seksis. Bayangin aja, di sekolahnya Vivian ini, siswa laki-laki dari tim olahraga memiliki penghargaan yang ditujukan kepada perempuan dengan merujuk pada tubuh si perempuan. Seperti penghargaan untuk perempuan yang pantatnya bagus, penghargaan untuk perempuan paling penurut, dan lainnya. Hal itu bahkan dibiarkan oleh pihak sekolah, dan menjadi bahan tertawaan. Pokoknya nggak pantes banget, deh!

Bangkit dari kemarahan perempuan atas perlakuan yang tidak adil dan semena-mena itu, grup Moxie ini kemudian menghimpun kekuatan untuk menggerakkan perempuan muda lainnya di sekolah agar berani bersuara dan membawa perubahan di sekolah itu. Mulanya gerakan dimulai dari menggambar tanda bintang dan hati di tangan sebagai simbol perlawanan. Lalu gerakan ini dipopulerkan melalui media sosial hingga banyak siswi perempuan yang mengikuti. Selanjutnya, ajakan menggunakan tanktop di sekolah untuk merespon perlakuan diskriminatif seorang guru yang hanya melarang satu siswinya menggunakan tanktop.

Film Moxie mengangkat persoalan yang rasa-rasanya juga menjadi masalah di Indonesia. Keadilan dan kesetaraan bagi perempuan, bagi sekolah kerap dianggap bukan masalah yang penting. Pengalaman korban yang melaporkan kasus pelecehan seksual kepada pihak sekolah justru dianggap hal yang membahayakan, terlebih bila kasus itu sampai bocor ke publik. Korban kerap diminta untuk memaklumi, dan bahkan melupakan kejadian tersebut. Bagi sekolah, hal yang serius dapat ditangani jika kasus yang terjadi menyangkut tentang narkoba atau kedapatan membawa senjata tajam.

Kerennya film Moxie, juga mengajarkan tentang sebuah perjuangan yang harus dilakukan terus menerus. Si Vivian, tokoh utamanya ini, di awal hampir menyerah ketika dia merasa berjuang sendiri untuk melakukan perubahan. Akan tetapi teman-temannya hadir untuk memberikan dukungan. Bahkan, ada beberapa ibu dari murid-murid ini yang datang ke sekolah sebagai bentuk dukungan. Kerennya lagi, grup Moxie akhirnya menjadi ruang bagi siswi lainnya lainnya untuk bercerita pengalamannya.

Haduh, rasanya pengen menjabarkan secara detail, deh, tentang Moxie, akan tetapi lebih baik jika langsung ditonton karena film itu baru dirilis di Maret 2021. Selain mengangkat tentang feminisme, penonton juga tetap akan disuguhkan kekhasan film percintaan anak muda, kok.

Tabumania, dengan menonton Moxie mungkin akan semakin dibuat rindu dengan suasana sekolah, lho! Suara bel, kantin, belum lagi dapat bertemu dengan teman-teman sejawat. Akan tetapi, tidak ada salahnya mencoba membuat gebrakan keren seperti yang Vivian dan teman-temannya lakukan. Membuat grup dukungan yang berisi perempuan-perempuan muda dengan pemikiran kritis, pasti dapat menghasilkan sebuah perubahan untuk ke depannya.

“Tubuh perempuan adalah miliknya sendiri. Dan perempuan tidak bertanggung jawab atas perilaku laki-laki.” Kira-kira itu menjadi gabungan kalimat penutup yang keren dari film Moxie. Selamat menonton, Tabumania!

About Ino Shean

Ino Shean, bukan nama yang sebenarnya. Menurut weton terlahir sebagai orang yang ambisius, urakan tapi mempesona dan penuh kasih sayang. Aktif dalam gerakan, komunitas dan organisasi di isu seksualitas sejak usia 18 tahun. Suka membaca novel, olahraga dan masih bercita-cita menjadi vegetarian. Pecinta film Marvel and DC! Dapat dihubungi lewat IG @ino_shean

0 comments on “Moxie, suara nyaring perempuan muda soal pelecehan seksual di sekolah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: